Minggu, 08 Juni 2014

Congrats,You

Hay,Apakabar?
Selamat yang keberapa kali?
Aku ucapkan dari hati aja ya,

Meskipun tidak terucap, bukan berarti tidak mengucap bukan?

Selalu ingat,

“Kalau suka,gak harus bilang-bilang kan?”
“Kalau dengar,gak harus bilang-bilang kan?”

Dan selalu ketawa kecil saat inget dialog singkat itu yg terucap dengan nada sedikit meninggi hehe.. 

Ah berlebihan sekali, bukan! ini bukan berlebihan

Aku mengetik ini sambil senyum senang kok hehe

Sambil berfikir bagaimana cara menyampaikan selamat paling keren sedunia

Setelah ini, giliranmu yang harus bilang selamat untukku




Maaf ngelantur, sudah malam,



Selamat malam ya,kamu


ps *selalu percaya bahwa suratku selalu terbaca disini, entah iya atau tidak 

Kamis, 05 Juni 2014

Sudut.


- Dimalam yang riuh dalam mesin pemutar acak, dengan iringan gitar mengalun memudarkan riuh menjadi penenang...


Ada satu kisah yang ingin dihentikan. Di tekan tombol ‘stop’ nya. Aku tidak meminta, namun Aku tidak ingin terlalu keras kepala lagi. Mungkin benar kata orang, “diam itu emas.” Sebab itu, Aku tak ingin banyak bicara lagi. Biarlah merasa sendiri, terasa sendiri, setiap ucapan yang tertulis dan tulisan yang seakan terdengar. Aku yakin setiap insan punya hati. Meskipun mengabaikan, namun jika suatu hari muncul kembali, semua yang terekam bisa terputar begitu saja.


Sekarang hanya bisa melihat, semua yang sebelumnya 
sembunyi. Pemaafan yang terasa jadi tidak sakral. Mudah diminta dan diulangi. Seakan perkataan itu bisa datar dibaca tanpa ada emosi yang entah tak pernah bisa ditebak. Atau barangkali Tuhan sedang menjawab doaku tentang ini itu.


 Dan ini adalah cara Dia menjawab. Aku sama sekali tidak menyangka, etika-etika yang pernah diajarkan itu hanya teori belaka. Dan Aku selalu berada diposisi yang selalu tidak enak dilihat dan didengar. Mungkin ini semacam latihan treatmil buat Aku, untuk tersenyum disaat-saat yang sangat tidak enak, tidak nyaman. Berada disudut yang tidak pernah ku suka, namun Aku lebih sering diposisikan di tempat itu. Sejujurnya, Aku benci.


Aku tidak berniat untuk mengatakan Aku kecewa, karena kisah-kisah terkadang bisa ditebak. Klise. Hanya menunggu waktu saja. Aku sudah berusaha merubah alurnya agar tidak berakhir dengan pola yang begitu-begitu saja, namun usahaku disalah artikan. Sayangnya begitu. Aku tidak berniat mengatakan sudahlah, karena lelahku sudah sejak beberapa waktu lalu. Dan berkata sudahlah seakan seperti seorang yang mudah patah, sedangkan Aku sedang menggeliat-menggeliatnya. 



Aku hanya penangkap warta. Bukan pencari. Di jaman secanggih ini, semuanya bisa melintas begitu saja. Entah ingin, entah tak sengaja. Merasa punya pengagum itu boleh saja, asal sudah memastikan bahwa pengagum itu sungguhan. Bukan abal-abal. Kalau belum memverifikasi dan berkoar tentang pengagum-pengagum yang tadi, kurang bijak bukan? 




Yang terakhir, barangkali ini sebuah tulisan yang ingin Kau baca. Aku tidak ingin mengurangi apapun. Kalau Aku berkata, ‘’Aku mengerti”, itu bukan karena Aku tau segalanya, namun hanya karena Aku merasa ‘sudah cukup’.






Stop. 


Rabu, 04 Juni 2014

Fiksi : Sepucuk untuk Ksatria


Sat,
Dulu kamu pernah sering menceritaiku tentang dongeng Raja Dreamyluvia
Raja dengan sejuta mimpi mimpi untuk membuat rakyatnya bahagia
Dia berani melawan batas-batas nya dan segala aturan sebelum menjadi raja
Hanya untuk melihat rakyatnya tersenyum kepadanya saat sedang menyamar menjadi rakyat jelata

Saat itu Kau ingin Aku percaya, bahwa impian kecil bisa menjadi begitu hebat
Seperti mimpi kecil Raja Dreamyluvia untuk melihat senyum rakyatnya
Kau ingin Aku untuk tetap menjaga impian kecilku, impianku saat masih kecil
Menjaga mimpi itu selayaknya anak kecil yang tak akan membiarkan genggaman mimpinya terlepas..

Sat,
Terimakasih telah mendongengiku kala itu
Mengingatkanku agar selalu punya impian impian kecil
Yang nantinya ku kumpulkan menjadi satu dalam kotak impian disamping tempat tidurku
Aku tunggu dongengmu selanjutnya ya Sat,

"Sat, cerita Raja Dreamyluvia belum selesai kau bacakan kan? Lain kali antarkan sebelum tidurku ya Sat :)"

P.S : Sepucuk kertas untukmu ini, simpan ya :) 

Selasa, 03 Juni 2014

Fiksi : Taman Makna

Aku melalui sebuah koridor yang membelah taman
Dari sana aku melihatmu memetik setangkai bunga yang tak pernah kau suka
Kau menghirup aroma wanginya yang sampai tempatku ini bisa tercium wanginya
"Kau berpura-pura, atau sudah berubah?", kataku dalam hati
Kemudian Kau duduk di kursi taman yang serupa dengan kayu besar yang dibelah
Setangkai bunga disakumu dan menunggu
Entah sudah berapa hari kau duduk dan aku berdiri di koridor ini melihatmu duduk
Tidak ada dinding, jarakmu dariku juga tidak terlampau jauh
Tapi kenapa aku tidak ingin menghampirimu lagi untuk yang kali ini
Kau duduk, dan tak akan berlari 
Mungkin aku hanya merasa tak mengenalimu lagi
Kau duduk, dengan setangkai bunga disakumu
Menjadi pria angkuh, yang tidak semua orang bisa berdialog denganmu
Dan aku tidak menghampirimu, bukan karena keangkuhanmu
Namun dialog mana lagi yang bisa saling kita maknai?





Sekarang aku tau kenapa ada hal yang dapat dilakukan dengan mudah,
 sementara bagi yang lain hal itu bisa teramat sulit
Mudah karena perasanya ringan, 
Sulit bukan karena berat, hanya karena sudah terlalu dalam..





ps: 'hay,aku disini pria favoritku'. -ramadhania (@silvifauziaR)

Senin, 02 Juni 2014

MUNGKIN..

Mungkin,
Momentum tidak dapat dikejar. Momentum hadir. Begitu ia lewat ia tidak lagi sebuah momentum. Ia menjadi kenangan. Dan kenangan tidak akan membawa Anda kemana-mana. Kenangan adalah batu-batu di antara aliran sungai. Anda seharusnya menjadi arus bukan batu.


Mungkin, 
terkadang keadaan membuat cinta terasa amat menyakitkan, akan tetapi kesejatian cinta tidak akan pernah berakhir manakala pengorbanan cinta itulah yang menjadi pemeran utamanya. cinta tidak akan pernah salah. cinta tidak mengenal batas. untuk cinta yang bertepuk sebelah tangan sekalipun.


Mungkin, 
Dia, yang tidak pernah kamu mengerti. Dia, racun yang membunuhmu perlahan. Dia, yang kamu reka dan kamu cipta. Sebelah darimu menginginkan agar dia datang, membencimu hingga muak dia mendekati gila, menertawakan segala kebodohannya, kehilafan untuk sampai jatuh hati kepadamu, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kalian berjumpa. .




Mungkin, 
Akan ada satu saat kamu bertanya: pergi ke mana inspirasiku? Tiba-tiba kamu merasa ditinggal pergi. Hanya bisa diam, tidak lagi berkarya. Kering. Tetapi tidak selalu itu berarti kamu harus mencari objek atau sumber inspirasi baru. Sama seperti jodoh, Nan. Kalau punya masalah,tidak berarti harus cari pacar baru kan? Tapi rasa cinta kamu yang harus diperbarui.Cinta bisa tumbuh sendiri,tetapi bukan jaminan bakal langgeng selamanya,apalagi kalau tidak dipelihara. Mengerti kamu?”



Mungkin, 
Kamu ingin cinta. Tapi takut jatuh cinta. But you know what? Kadang -kadang kamu harus terjun dan jadi basah untuk tahu air. Bukan cuma nonton di pinggir dan berharap kecipratan.




Mungkin, 
Suatu saat, apabila sekelumit dirimu itu mulai kesepian dan bosan, ia akan berteriak-teriak ingin pulang. Dan kamu akan menjemputnya, lalu membiarkan sejarah membentengi dirinya dengan tembok tebal yang tak lagi bisa ditembus. Atau mungkin, ketika sebuah keajaiban mampu menguak kekeruhan ini, jadilah ia semacam mercusuar, kompas, bintang selatan…. yang menunjukkan jalan pulang bagi hatimu, untuk, akhirnya, menemuiku..



Dan mungkin "Kau hadir dalam ketiadaan, sederhana dalam ketidakmengertian. Gerakmu tiada pasti, namun aku selalu disini, menantimu.. Entah mengapa...."



Jumat, 23 Mei 2014

Oh

Like the shadows
Grey grey hey, behind the shiny cloud
Moving the word to the my recycle bin
And brought the pictures to the trash
You do right, I do wrong, always like that right?
Yes, but I'm sorry, I left
I miss my disappear, near from you
Don't call me back
Don't find me more
I'm just a girl, I have my own
Forget forget our last promises
You do right, I do wrong, always like that right?
You find the others, I still find you

You do right, I do wrong, always like that right? 

I just wanna say, Oh.



*please read like the rapper, and enjoy my randomly feeling --

Sewindu

Sewindu lebih beberapa hari yang lalu kau memilih untuk pergi dari ku, hidup ku, dunia ku.
Meninggalkan bekas luka mendalam.
Beberapa sebab ku dengar amat menyakitkan.
Karena hal sepele kau memutuskan 'Kita' lalu pergi dengan yang lain.
Kau tau? Hati ku menjerit: "hey! Ini aku! Seorang wanita yang amat mencintaimu. Kau bilang kau mengenalku? Beserta hatiku? Lalu mengapa tega menyakitiku begitu dalam?".
Memaki mu pun rasanya percuma, kau takkan pernah mengerti. Dan menghujat diri ku sendiri pun rasanya sia-sia, semua telah terjadi, waktu tak dapat kembali.

Masa bergulir. Matahari bertukar posisi dengan rembulan secara rutin tiap hari nya. Mereka memang tak pernah bertemu, tapi mereka di namakan takdir. Akankah Kita?
Lupakan!

Aku selalu mencoba melupakan mu, tentu dengan cara ku sendiri. Angan-angan tentang mu, janji-janji manis mu, dan harapan-harapan yang dulu kau isyaratkan kini telah menggantung entah dimana.
Aku berusaha semampu ku tapi tak pernah berhasil.
Semakin ku ingin melupakan mu, mengapa semakin melekat dirimu di hati ini?
Aku ingin melepaskan semua dengan mudah, sama seperti kau; yang melepaskan ku sekejab mata memandang. Tak berirama, namun mencengkan jiwa.

Kadang aku merasa membutuhkan mu untuk berbagi seperti dulu,
Kadang aku merasa rindu pada masa 'kita' masih ada,
Kadang aku berfikir kalau kau akan datang pada ku dengan kemasan yang baru, tentu berbeda; sosok yg aku inginkan. Tak bermaksud untuk egois, aku hanya ingin kau menjadi pribadi yang baik,jujur dan bertangggung jawab. Apa terlalu sulit untuk kau lakukan?
Tapi tunggu! Hey, siapa aku? Berani sekali aku meminta padamu. Kini aku bukan siapa-siapa mu lagi. Kelak datang seseorang yang bisa membahagiakan mu, dan aku ingin menjadi wanita pertama yang melihat ukiran senyum manis itu. Itu hak atas hati ku. Dan kau.....kau tak bisa melarang nya!

Aku benci saat kau mulai berani membohongi ku.
Hati ku hancur saat kau mulai bisa membentak ku.
Air mata ku tak dapat ku cegah untuk menghujam, karena kepergian mu secara tiba-tiba.
Tak pernah ku sangka bahwa akhir nya kau memilih dia dari pada 'kita'.
Aku menjaga hati ku hanya untuk mu, dan kau menjaga hati mu untuk dia, atau pun mereka.
Semua tentang mu ku simpan di dalam kotak.
Maaf  , aku terlalu sakit melihatnya lagi.
Maaf  , aku terlalu cengeng saat di hadapkan pada mereka.
 Maaf , aku terlalu kecewa untuk mengingatyang pernah terjadi.
Maaf  , aku belum berhasil melupakan mu... Tapi aku janji, suatu hari nanti pasti AKAN terjadi.

Dari awal pun aku tau,
Kau akan baik-baik saja tanpa ku.
Bahkan kau lebih cepat menyentuh bahagia di banding aku.
Aku turut senang kau tak larut dalam deras nya air mata, seperti ku.
Aku tau kau bisa! Kau kuat! Tangguh! Kau tak pantas menangis!Air mata mu akan terbuang sia-sia jika menetes untuk wanita seperti ku...
Mendengar tawa mu, aku bahagia dalam air mata.

Kau tak perlu tau seberapa dalam aku terluka, dan sejauh mana aku mengingat tentang bahagia.
Karena kau telah memilih jalan mu sendiri. Tanpa ku tentunya.
Maaf, aku hanya bisa meng-iya-kan saat kau memutuskan untuk pergi.
Dan kini hanya ada Aku, sendiri disini.
Kamu, jauh disana bersama bahagia yang telah kau raih.
Tanpa kita...



dedicated : "Dia"